PERJUANGKAN KEMERDEKAAN NASIONAL JILID II
Luas wilayah NKRI yang mencapai kurang lebih dua juta km persegi, dengan hamparan 17.504 pulau dengan total penduduk 203, 46 juta jiwa, yang di dalamnya hidup sekitar 495 rumpun bahasa dalam kelompok etnis dan 5 agama resmi plus puluhan aneka kepercayaan, telah mengandung potensi konflik yang bisa direkayasa oleh kepentingan para pemodal untuk memecahbelah integritas ekonomi politik masyarakat Indonesia. Sejarah pun pernah mencatat, kelahiran Indonesia ‘muda’ pun masih harus berhadapan dengan kekuatan separatisme seperti PRRI Permesta, DII-TII, RMS dan lain-lain sebagai akibat perebutan dan penguasaan akses ekonomi politik kolonialisme dan kapitalisme internasional yang menjadikan perbedaan identitas masyarakat sebagai sumbu yang sewaktu-waktu bisa disulut.
Berangkat dari gegap gempitanya penyambutan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 63 ini, suasana hari kemerdekaan selalu disambut dengan pesta rakyat yang diadakan dari tingkat RT sampai kelurahan, dari lomba makan kerupuk sampai panjat pinang dilakukan demi mengekspresikan rasa kemerdekaan dan semangat perjuangan para pejuang kita tempo dulu, tetapi dibalik itu semua apakah ini yang hendak diperjuangkan oleh para pendiri dan pejuang bangsa ini tempo dulu?.
Arti kemerdekaan yang terbebas dari proses kolonialisasi-imperalisme asing serta dapat menentukan nasibnya sendiri ternyata tidak sepenuh didapat oleh bangsa Indonesia bahkan tidak pernah hadir dalam kehidupan ekonomi-politik-sosial-budaya rakyat Indonesia. Periodesasi kemerdekaan rakyat di negeri ini hanyalah simbolik belaka. Naiknya Rezim Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Soesilo Bambang Yudhoyono ternyata tidak mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah dikumandangkan oleh para founding fathers kita. Terlebih sekarang situasi nyata yang kita (baca:rakyat) rasakan ternyata memasuki lembaran babak hitam yang sepertinya tidak ada ujungnya. Hampir semua rezim yang pernah naik dan yang sedang berkuasa hari ini tidak lebih dari perpanjangan tangan dari Kapitalisme Internasional, bahkan proses penetrasi Kapitalisme Internasional semakin menggurita bukan hanya di ranah ekonomi-politik tetapi di sosial-ekonomi dan budaya masyarakat hari ini. Kita sebut saja, problem sengketa agraria, liberalisasi pendidikan, liberalisasi tenaga kerja sampai munculnya kebijakan negara yang anti rakyat dan pro modal, telah membuat tergadainya kekayaan sumber daya alam ke dalam cengkraman Kapitalisme Internasional, belum lagi ditambah dengan budaya korupsi para elit politik kita yang seolah-olah sudah menjadi budaya rakyat Indonesia. Situasi ini diperparah dengan, penerapan investasi yang tidak pernah terkait dengan kebutuhan publik masyarakat yang mengakibatkan kesenjangan sosial ekonomi sehingga memunculkan kembali keinginan di beberapa daerah terbelakang di luar Pulau Jawa untuk lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi. Sejarah pun mencatat pula bahwa embrio konflik disintegrasi masa lalu tidak terlepas dari kepentingan Kapitalisme Internasional untuk memecah belah NKRI agar penetrasi ekonomi politik liberalnya bisa masuk dengan mudah.
Singkat kata, sulit membayangkan hiruk pikuk perayaan kemerdekaan ketika masih banyak terjadi wabah penyakit merajalela dimana-mana, angka pengangguran dan angka kemiskinan yang semakin tinggi, naiknya harga sembako bahkan sampai praktek-praktek brutal eksploitasi investasi asing yang sewenang-wenang menghisap sumber daya alam ibu pertiwi membuat semakin termarjinalkannya kesejahteraan rakyat Indonesia. Maka, siapapun rezim yang berkuasa hari ini tidak pernah bisa menjadi faktor dominan bagi perubahan riil kesejahteraan masyarakat indonesia ketika seluruh kekayaan alam dan kebijakan negara masih hanya menguntungkan segelintir elit birokrasi dan kroni-kroninya serta kepentingan Kapitalisme Internasional.
Untuk itu, bersamaan dengan kehendak Rakyat Indonesia yang merindukan Kemerdekaan Nasional yang sejati maka kami Front Perjuangan Pemuda Indonesia Pimpinan Kota Jogjakarta menyerukan Refleksi Kemerdekaan yang ke 63 tahun ini dengan Sikap Pemuda Perjuangkan Kemerdekaan Nasional 2 dengan menuntut :
- Turunkan harga BBM.
- Kembalikan Tanah Rakyat yang Terampas dan Wujudkan Revolusi Agraria yang sejati.
- Cabut UU dan Peraturan yang tidak berpihak kepada rakyat.
- Naikkan Upah Buruh, Wujudkan Pendidikan dan Kesehatan Gratis untuk Rakyat.
- Sita Harta aset-aset Koruptor dan Nasionalisasi Aset-aset perusahaan asing yang bercokol di Negeri ini dan Bangun Industrialisasi Nasional.
- Subsidi penuh untuk kesejahteraan rakyat dan sediakan Lapangan Kerja untukRakyat.
"Kami juga menyeruhkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk wujudkan kemerdekaan 100 persen Rakyat Indonesia terhadap Tanah, Air dan Udara dengan membentuk konsolidasi gerakan ekstraparlementer demi terwujudnya pembebasan Nasional Demokrasi Kerakyataan."
"Dan apabila tuntutan rakyat ini belum dapat terwujud maka GOLPUTlah pilihan kami di PEMILU 2009"
Refleksi dan Aksi ini diikuti oleh seluruh pemuda-pemuda pemberani dari berbagai daerah sebagai ujud dari Perjuangan Kemerdekaan Nasional 2. Refleksi diadakan pada hari Sabtu, tanggal 16 Agustus 2008, Pukul 19.00 WIB-selesai di Boulevard UGM dan akan dilanjutkan oleh aksi yang akan diadakan pada hari Minggu, tanggal 17 Agustus 2008, Pukul 10.00 WIB bertempat di Boulevard UGM Yogyakarta.

0 komentar:
Posting Komentar