PIMPINAN NASIONAL
FRONT PERJUANGAN PEMUDA INDONESIA
KEBANGKITAN PEMUDA DENGAN JALAN GERAKAN EKSTRA PARLEMENTER UNTUK MENEGUHKAN DEMOKRASI RAKYAT
Sepuluh tahun reformasi ternyata belum membuahkan apa yang diidam-idamkan masyarakat Indonesia. Reformasi yang diharapkan dapat menghancurkan karater Orde Baru yang otoritarian ternyata malah melahirkan eili-elit politik yang menjual kekayaan bangsa ini. Kebijakan-kebijakan yang diciptakan rezim pasca orde baru tidak diperuntukan membangun bangsa yang mandiri serta membangun mentalitas-moralitas bangsa yang merdeka, namun lebih pada upaya menghasilkan kebijakan yang mengaburkan makna demokrasi. Alhasil bukan kemerdekaan seperti yang diinginkan yang tercipta. Apa yang terjadi justru perselingkuhan antara pemcrintah dengan pemodal internasional. Hal ini ditandai dengan maraknya arus privatisasi yang membuat garis demarkasi atas akses rakyat dengan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pendidikan. kesehatan, pekerjaan adalah bentuk nyata bahwa bangsa ini telah kehilangan kedaulatannva.
Kemiskinan yang terjadi hari ini bukan semata-mata hasil dari perbaatan rezim saat ini saja, namun rentetan kebijakan sebelumnya turut serta memberikan kontribusi atas kemiskinan rakyat Indonesia. Keterpurukan bangsa ini tidak membuat elit politik berpikir bagaimana membangun bangsa untuk kesejahteraan masyarakat, yang terjadi justru upaya untuk menjual dan menggadaikan tiap jengkal tanah pertiwi. Kebijakan publik yang dik.eluarkan kelompok konservatif elit politi yang tumbuh dalam negara dianggap sebagai jawaban bagi persoalan kemiskinan. Kepentingan umum dijadikan alasan oleh pemerintah untuk menjalankan kebijakannya, faktanya bahwa kebijakan ini semakin membuat masyarakat Indonesia yang berbasiskan pada potensi agraria semakin tercabut atas kepemilikan tanahnya. Negara bebas mengusir siapapun dari tanahnya atas pertimbangan perekonomian, akan tetapi pertimbangan tersebut lebih terlihat sebagai sebuah intervensi modal asing atas kebijakan negara dan menunjukkan pemerintah tidak memperhatikan hak-hak dasar rakyat yang harus dipenuhi demi mewujudkan kedaulatan rakyat atas alat produksi.
Karakter negara yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat menunjukkan negara telah berubah fungsinya menjadi penjaga keberlangsungan modal dalam melakukan penetrasinya di negara-negara dunia ke-3, dalam hal ini Indonesia. Dalam kebijakan ekonomi-politik dalam negeri nampak karakter oligarkisme negara yang memutarbalikkan logika demokrasi. Sehingga terjadi disorientasi masyarakat dalam memahami demokrasi itu sendiri. Hari ini demokrasi hanya dijadikan sebuah jargon yang dijalankan untuk mengakomodir kepentingan Elit-kekuasaan. Alhasil demokrasi yang berlangsung di negeri ini tidak lebih dari sebuah demokrasi Procedural yang justru semakin menidurkan rakyat dalam ilusi kesadarannya. Luasnya pulau yang dimiliki negeri ini diatur sedemikian rupa melalui sistem ekonomi yang monopolistik untuk kemudian dikuasai oleh kepentingan segelintir manusia yang tidak menumpahkan keringat atas pengolahan tanah negeri ini. Rakyat Yang selama ini hidup dan herjuaug mati-matian demi kedaulatan individu ,maupun sosialnya juatru harus rela menjadi korban kerakusa rezim.
Di sisi lain masyarakat seakan berhadapan dengan sebuah jalan dimana rakyat mau tidak mau harus mengikuti sistem yang dibuat oleh para penjajah berdarah pribumi tersebut. Rakyat seakan tidak diberikan pilihan lain yang menjelaskan bahwa, tanah ini dibangun atas kucuran keringat, air mata, bahkan darah mereka. Semua itu dilakukan agar rakyat tetap tertidur dalam mimpinya dan tidak beranjak mernbangun kesadaran revolusioner yang dapat merubah peta sosial-politik negeri ini. Pengkhianatan atas nilai-nilai demokrasi merupakan sebuah penginekaran atas cita-cita kemerdekaan yang ditegaskan oleh para pendiri bangsa ini sejak 63 tahun yang lalu. Jika hal ini dibiarkan terus menerus terjadi, hal itu sama dengan membiarkan bangsa ini berjalan menuju kehancurannya.
Apa yang terjadi tersebut jelas tidak bisa dibiarkan terjadi berlarut-larut dan memperpanjang cerita penindasan bangsa ini. Harus ada kelompok masyarakat yang menegaskan posisinya derni teewujudnya kedaulatan rakyat tersebut dan mengakhiri mimpi buruk ini. Ilusi akan perjuangan demokrasi yang terjadi di pusat kekuasaan, megahnya gedung parlemen tidak cukup untuk dikritisi sernata-mata, akan tetapi tindakan kongkrit dalam perjuangan kerakyatan adalah satu-satunya jalan yang harus dititi menuju pembebasan nasional demi menegaskan kemerdekaan rakyat atas tanahnya dan sekian akses produksi lainnya. Perjuangan pemenuhan hak dasar maupun mendorong Negara untuk membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat dilakukan dengan cara mekanisme ekstra parlementarian sebagai salah satu upaya untuk menghancurkan kekuatan oligarki politik dan menciptakan kekuatan sosial baru yang bernuansa keadilan, kebersamaan dan kemerdekaan. Mendorong partisipasi publik dan menggalang kekuatan rakyat pekerja hanya dapat dilakukan oleh kekuatan pemuda sebagai kelompok social yang memiliki semangat, cita-cita untuk meneguhkan demokrasi rakyat. Sebagai salah satu upaya menuju tewujudnya demokrasi rakyat dan sebagai prasyarat terbentuknya Demokrasi Kerakyataan, maka kami dari Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) menuntut :
- Pendidikan Murah
- Naikan Upah Buruh
- Nasionalisasi Aset Asing
- Laksanakan Agenda Reforma Agraria
- Tolak Ucang Baru Hapus Utang Lama
- Turuinkan Harga Sembako
- Cabut Undang-Undang Anti Rakyat
- Lapangan Kerja Untuk Rakyat
Dan kami juga menyeruhkan kepada seluruh gerakan ekstraparlementer untuk merapatkan barisan demi terciptanya pembebasan Nasional, Demokrasi dan Kerakyataan.
Jakarta, 18 Maret 2008
Front Perjuangan Pemuda Indonesia
